Hukum Menyusui dalam Fiqh Islam

 # Hukum Menyusui dalam Fiqh Islam


Menyusui adalah salah satu masalah penting dalam fiqh Islam, karena dianggap sebagai sumber perkenalan dan hubungan kekerabatan antara individu. Dalam konteks ini, banyak ulama membahas syarat-syarat menyusui dan pengaruhnya terhadap nasab dan larangan.


## Syarat-syarat Menyusui


Untuk menganggap menyusui sebagai penyebab pengharaman nasab, ada dua syarat utama yang harus dipenuhi:


1. **Usia yang Ditentukan untuk Bayi**:

   - Bayi harus berusia di bawah dua tahun, yang berarti usianya harus kurang dari dua tahun. Perhitungan dua tahun dimulai dari saat bayi terpisah dari ibu.


2. **Jumlah Susuan**:

   - Bayi harus disusui sebanyak lima kali yang terpisah, dan susu tersebut harus mencapai perut bayi. Jika susu tidak sampai ke perut atau otak, maka itu tidak dianggap sebagai sebab pengharaman.


### Pentingnya Syarat


Para ulama menekankan pentingnya syarat-syarat ini, karena jika tidak terpenuhi, maka tidak ada hubungan pengharaman antara ibu menyusui dan bayi. Hal ini dianggap penting untuk menjaga hak-hak individu dan mengatur hubungan keluarga.


### Pengecualian


Ada beberapa pengecualian yang perlu diperhatikan, seperti:


- **Menyusui setelah kematian**: Jika bayi meminum susu dari ibu setelah ia meninggal, maka itu tidak berpengaruh pada pengharaman, kecuali jika susu tersebut diperah pada masa hidupnya.


- **Kehidupan Bayi**: Bayi harus hidup dalam keadaan stabil saat disusui.


## Kesimpulan


Memahami hukum menyusui dan syarat-syaratnya membantu dalam menentukan hubungan keluarga dalam masyarakat Islam. Masalah ini merupakan hal yang rumit yang memerlukan pengetahuan dan kesadaran terhadap hukum agama, yang pada gilirannya berkontribusi pada penguatan hubungan keluarga dan penentuan hak serta kewajiban antara individu.


ذا أرضعت المرأة بلبنها ولدا) سواء شرب منها اللبن في حياتها أو بعد موتها، وكا

 محلوبا في حياتها (صار الرضيع ولدها بشرطين: أحدهما أن يكون له) أي الرضيع (دون الحولين) بالأهلة. وابتداؤهما من تمام انفصال الرضيع. ومن بلغ سنتين لا يؤثر ارتضاعه تحريما، (و) الشرط (الثاني أن ترضعه) أي المرضعة (خمس رضعات متفرقات) واصلة جوف الرضيع.


2. Hasyiyah Bajuri, juz: 2 hal: 266.

قوله: (بشرطين) وترك شرطين، وهما وصول اللبن في كل مرة من الخمس إلى جوف الطفل من المعدة أو الدماغ ، فلو لم يصل إلى الجوف فلا تحريم ، ولو وصل لحد الباطن المفطر للصائم وكون الطفل حيا حياة مستقرة.

0 تعليقات

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم